Ada aneka macam impian, keinginan, cita-cita yang selalu berterbangan dalam benak dan kepala ini. Kadang-kadang keinginan itu begitu kuat dan menggoda, begitu indah dan menantang, begitu indah dan merindukan tuk segera diwujudkan. Kapankan waktu itu tiba...begitulah terkadang jeritan jiwa yang mendamba dan merindu detik-detik terwujudnya sebuah impian dan cita-cita menjadi realita.
Bila waktu itu tiba, pastilah jiwa bersorak gembira, bersenandung riang dan bersyukur tak henti saat menyadari bahwa ia telah memenangkan garis finish yang seolah-olah berada diujung yang tak kunjung tergapai.
Penantianku pun seperti itu...
Aneka pergulatan, kerja keras, semangat, suka cita, sakit hati dan keperihan yang mengiringi terbangunnya sebuah impian lama. Tidak mudah, sungguh sangat tidak mudah.
Saat kelelahan mendera, ingin ku mundur dan berganti dengan keingin-keinginan lainnya. Tetapi tanpa terduga datang ajakan dari teman-teman..."Ayo, bersemangat, engkau hanya butuh istirahat sesaat, bukan pergi dan meninggalkan impianmu"
Begitulah siklusnya...
Besok akan menjadi penghujung perjalananku di tempat ini...
Sebuah tempat yang sangat banyak membagikan kekayaan dan pengalaman...
Sebuah tempat yang sungguh ku syukuri pernah menjadi bagian dari sejarahku...
Sebuah tempat yang memberi keindahan dikala kegersangan panas gurun terasa menyiksa...
Tak lama perjalan ditempat ini..tetapi ia telah menancap cukup dalam.
Dan ku yakin segala sesuatu memang harus terjadi pada waktunya.
Mungkin esok memang waktu yang DIA inginkan tuk menjadi penghujung.
Mungkin lusa, DIA telah mempersiapkan arena baru yang lebih indah bagi sang jiwa.
Mungkin aneka keindahan telah DIA persiapankan didepan sana & menunggu tuk dijelajahi.
Semoga pertualangan berikutnya akan semakin sesuai dengan impianMU...
Semoga perjalanan selanjutnya semakin membentuk diriku serupa dengan citraMU...
Semoga karyaku nanti semakin berkenan dihadapanMU...
Semoga makna hidupku semakin berkenan bagiMU.
Itulah keinginan dan kerinduan terdalam jiwaku, wahai Kekasih Jiwaku.
Akhir July 2008
Sebelum meninggalkan ASEAN Secretariat
Thursday, July 31, 2008
Tuesday, July 15, 2008
Apakah engkau tahu, apa yang DIA inginkan daripadamu, Jun ?
Kita telah mengenal dan percaya akan cinta Allah terhadap kita," kata seorang teman.
"Tentu saja!".
"Bagaimana kita tak dapat percaya akan cinta setelah mengenalnya ?"
"Bagaimana kita tak dapat mengenalnya setelah cinta itu dinyatakan kepada kita ?"
"Apakah engkau benar-benar yakin akan hal itu ?" ia bertanya
Kuakui dan kurasakan...
Betapa baiknya DIA mengetahui
tanda-tanda cuaca di langit,
pikiran-pikiran manusia di bumi ini,
keindahan kuntum-kuntum bunga di padang
serta perangai burung-burung di udara !
Terkadang daku membayangkan...
Bagaimana manusia yang selalu menyibukkanNya,
dengan pertengkaran-pertengkaran yang tolol,
dengan keluhan-keluhan mereka
serta permintaan-permintaannya
yang sangat ingat diri,
dengan kepala batunya serta hatinya yang bandel,
Jika IA telah puas dengan manusia,
pastilah DIA akan pergi dengan sebuah perahu
bersama kelompok kecil
sahabat-sahabatNya yang setia
dan menarik nafas di laut yang mercak-mercik.
Daku juga membayangkan...
Sama seperti daku mencari sekedar kesunyian
atau suatu hembusan angin yang segar
sebelum memulai hari baru,
IApun pernah melakukan hal yang sama,
bahwa Ia pun mengalami kebutuhan yang sama
dan merasakan kenikmatan-kenikmatan sederhana itu?
Lalu muncul keinginan...
memiliki sikapNya terhadap 'orang' yang paling tak dihargai,
Ia menunjukkan cinta sedemikian rupa,
Ia menunjukkan kepercayaan,
yang begitu mendesak dan tak terduga,
sehingga menjadi sumber kemurahan hati serta iman yang mengagumkan.
Sehingga perasaan-perasaan yang seolah
telah kering selama-lamanya
mulai mencair kembali dan mengaliri diri 'orang',
membuat 'orang' terapung-apung,
menghayutkan dan membuat 'orang' bertobat.
Kemudian...
TeladanNya terhadap orang-orang yang "dibuang",
Ia memilih tuk berhenti dihadapan mereka,
menatap mereka dengan kepercayaan
yang begitu besar,
dan mencintai mereka
dengan kesederhanaan yang begitu lugu,
dengan kelembutan yang begitu tidak-biasa,
dan kegembiraan yang membara-bara,
sehingga pastilah Ia menarik ke luar
dari hati mereka yang keras
dan tidak tahu belas kasihan,
suatu ledakan terima kasih, kagum dan terpikat.
Dari setiap orang
Tuhan menantikan sesuatu yang paling hebat.
"Apakah engkau tahu, apa yang DIA inginkan daripadamu, Jun ?" kembali ia bertanya.
Dan ku jawab dalam bisu
dengan kembali merenung...
dan mencari...
Sumber inspirasi : "Kaulah Orangnya by Louis Evely"
"Tentu saja!".
"Bagaimana kita tak dapat percaya akan cinta setelah mengenalnya ?"
"Bagaimana kita tak dapat mengenalnya setelah cinta itu dinyatakan kepada kita ?"
"Apakah engkau benar-benar yakin akan hal itu ?" ia bertanya
Kuakui dan kurasakan...
Betapa baiknya DIA mengetahui
tanda-tanda cuaca di langit,
pikiran-pikiran manusia di bumi ini,
keindahan kuntum-kuntum bunga di padang
serta perangai burung-burung di udara !
Terkadang daku membayangkan...
Bagaimana manusia yang selalu menyibukkanNya,
dengan pertengkaran-pertengkaran yang tolol,
dengan keluhan-keluhan mereka
serta permintaan-permintaannya
yang sangat ingat diri,
dengan kepala batunya serta hatinya yang bandel,
Jika IA telah puas dengan manusia,
pastilah DIA akan pergi dengan sebuah perahu
bersama kelompok kecil
sahabat-sahabatNya yang setia
dan menarik nafas di laut yang mercak-mercik.
Daku juga membayangkan...
Sama seperti daku mencari sekedar kesunyian
atau suatu hembusan angin yang segar
sebelum memulai hari baru,
IApun pernah melakukan hal yang sama,
bahwa Ia pun mengalami kebutuhan yang sama
dan merasakan kenikmatan-kenikmatan sederhana itu?
Lalu muncul keinginan...
memiliki sikapNya terhadap 'orang' yang paling tak dihargai,
Ia menunjukkan cinta sedemikian rupa,
Ia menunjukkan kepercayaan,
yang begitu mendesak dan tak terduga,
sehingga menjadi sumber kemurahan hati serta iman yang mengagumkan.
Sehingga perasaan-perasaan yang seolah
telah kering selama-lamanya
mulai mencair kembali dan mengaliri diri 'orang',
membuat 'orang' terapung-apung,
menghayutkan dan membuat 'orang' bertobat.
Kemudian...
TeladanNya terhadap orang-orang yang "dibuang",
Ia memilih tuk berhenti dihadapan mereka,
menatap mereka dengan kepercayaan
yang begitu besar,
dan mencintai mereka
dengan kesederhanaan yang begitu lugu,
dengan kelembutan yang begitu tidak-biasa,
dan kegembiraan yang membara-bara,
sehingga pastilah Ia menarik ke luar
dari hati mereka yang keras
dan tidak tahu belas kasihan,
suatu ledakan terima kasih, kagum dan terpikat.
Dari setiap orang
Tuhan menantikan sesuatu yang paling hebat.
"Apakah engkau tahu, apa yang DIA inginkan daripadamu, Jun ?" kembali ia bertanya.
Dan ku jawab dalam bisu
dengan kembali merenung...
dan mencari...
Sumber inspirasi : "Kaulah Orangnya by Louis Evely"
Friday, July 04, 2008
Salam
Malam menghadirkan bulan
Sang Bulan membangkitkan kenangan
Akan seseorang entah telah terbang kemana
3 malam dalam perjalanan pulang
Mata memandang bulan
Teringat akan seseorang yang terpana pada purnama
Sambil memandang bulan
Dikekelaman malam
Ku sampaikan salam
Salam selamat malam...!
Sang Bulan membangkitkan kenangan
Akan seseorang entah telah terbang kemana
3 malam dalam perjalanan pulang
Mata memandang bulan
Teringat akan seseorang yang terpana pada purnama
Sambil memandang bulan
Dikekelaman malam
Ku sampaikan salam
Salam selamat malam...!
Thursday, June 12, 2008
Sssttttt...!
Mari ... hening sejenak
Menyendiri dengan kesendirian
Menemukan kembali sesuatu nan memudar dan hampir hilang
Mari ... membuat jiwa kembali bertemu maknanya
Membuat sukma pada hakekat bebasnya
Menuai keindahan tanpa keterikatan
Mampukah dikau menemukan keindahan ?
Sssttttt...!
Diam & heninglah !
Seluruh pencarian ada didalamnya !
Diriku dalam rindu akan keheningan
Menyendiri dengan kesendirian
Menemukan kembali sesuatu nan memudar dan hampir hilang
Mari ... membuat jiwa kembali bertemu maknanya
Membuat sukma pada hakekat bebasnya
Menuai keindahan tanpa keterikatan
Mampukah dikau menemukan keindahan ?
Sssttttt...!
Diam & heninglah !
Seluruh pencarian ada didalamnya !
Diriku dalam rindu akan keheningan
Bambu
Keseluruhanmu berguna!
Ketinggian nan bertambah, membuatmu semakin merunduk.
Bahkan saat angin datang menerpa,
engkau justru menghasilkan bunyi nan indah,
melalui gesekan dedaunanmu.
Bambu...
engkau pernah hadir memberi makna itu dalam doa heningku.
Memory in Ruteng, Manggarai in 2005
Ketinggian nan bertambah, membuatmu semakin merunduk.
Bahkan saat angin datang menerpa,
engkau justru menghasilkan bunyi nan indah,
melalui gesekan dedaunanmu.
Bambu...
engkau pernah hadir memberi makna itu dalam doa heningku.
Memory in Ruteng, Manggarai in 2005
Thursday, June 05, 2008
Anak kecil Vs Opportunis
Secara tidak sengaja di dalam bis pada suatu malam dua bulan yang lalu, saya bertemu dengan seorang anak lelaki yang sangat menarik. Dia sangat ramah dan ceria, kemudian tanpa ragu memulai perbincangan. Dengan sedikit iseng saya bertanya, "Kamu masih sekolah?"
Dengan senyuman lepas dia berkata "Jika aku masih sekolah, aku sudah kelas 1 SMP, Mbak, tapi aku sudah berhenti sekolah sejak kelas 5 SD"
Hati saya sangat terenyuh saat mendengar hal itu yang dilanjutkannya dengan berkata" aku sudah pernah kerja di Cirebon, tetapi karena aku wong Jawa tidak bisa bahasa Cirebon, sulit kalo jadi kenek disana, trus aku balik lagi ke Jakarta, disini lebih nyaman!". Rupanya dia bangga menjadi seorang Jawa, saya tersenyum dikedalaman dan entah mengapa sampai saat ini bayangan anak tersebut masih jelas dalam benak saya.
Memang sangat mengenaskan nasib sebagian besar anak-anak di kota ini. Jika kita lihat dibanyak perempatan lampu merah dengan pemandangan anak-anak balita dalam gendongan seorang wanita (entah ibunya atau bukan) yang sedang meminta-minta sudah merupakan hal yang biasa. Bahkan terkadang anak-anak itu sendiri yang turun kejalan dan memasuki bis-bis atau mengetok kaca mobil tuk meminta-minta. Belum lagi anak-anak yang tertidur (atau ditidurkan) pada banyak jembatan penyebrangan hingga larut malam. Jangankan mengenal buku dan pensil, atap rumah saja tidak mereka kenal kecuali setiap hari berada dibawah langit kelam kota ini. Akan tetapi walau mereka belum mampu mengecap 'keindahan' dari negeri ini, mereka tidak meragukan kewarganegaraan mereka di negeri ini. Mereka akan menjawab dengan bangga, lantang dan pasti jika ditanyakan asal mereka dan negeri mereka. Tidak ada keraguan sedikitpun.
Perjumpaan-perjumpaan dengan mereka ini sering menggelitik hati saya "apa yang dapat saya lakukan" untuk perbaikan. Bagaimana nasib bangsa ini jika mereka anak-anak itu akan menjadi generasi penerus bangsa ini pada saatnya nanti?? Kemana mata para penguasa selama ini ? Apakah mereka tidak pernah menyaksikan pemandangan diperempatan lampu merah dan jembatan-jembatan penyeberangan itu ? Apakah hal ini belum menjadi suatu issue karena prosentasenya yang dianggap masih kecil ?
Memang ada kalangan tertentu di negeri ini yang mampu menikmati sekolah mewah yang prestisius. Sekolah yang hanya dapt dimasuki oleh mereka yang memiliki orang tua dengan income tertentu. Mereka mendapatkan segala yang baik dinegeri ini. Akan tetapi saat mereka tidak bisa secara lancar berbahasa Indonesia, bahasa negara dimana mereka hidup dan berkembang, saya menjadi bertanya-tanya "siapa mereka ini sebenarnya ??"
Banyak orang-orang yang berusaha mengambil aneka keuntungan dari keberadaan mereka di negeri ini. Mereka bekerja, beranak cucu, membesarkan anak-anak mereka, menikmati fasilitas yang ada dan memiliki kekayaan karena keberadaan mereka di negeri ini, akan tetapi selalu menghujat dan membenci negeri ini bukan karena ingin mengkritisi untuk membangun tetapi karena mereka memang opportunis!
Betapa geram rasanya, saat menedengar seorang teman berkata"jika ada negara yang akan menyerang negeri ini, maka aku akan mendukung negara tersebut". Rasanya ingin marah!! Memang harus mengakui bahwa dalam perjalanannya (akibat penguasa yang kurang bijaksana) ada masa kelabu yang harus dialami oleh golongan tertentu dinegeri ini. Tetapi bukan berarti kita terus membawa luka itu sepanjang hidup dan menularkannya kepada generasi selanjutnya. Jika terus begitu, maka rantai kepahitan itu tidak akan pernah selesai!!
Jika kita tidak mampu memberi sesuatu bagi negeri ini, maka janganlah kita membenci, menghujat atau memperburuk keadaan. Sebab negeri ini telah memberi banyak hal berharga bagi kita! Janganlah kita mengaburkan impian indah para pendiri negeri ini pada mulanya !
Dengan senyuman lepas dia berkata "Jika aku masih sekolah, aku sudah kelas 1 SMP, Mbak, tapi aku sudah berhenti sekolah sejak kelas 5 SD"
Hati saya sangat terenyuh saat mendengar hal itu yang dilanjutkannya dengan berkata" aku sudah pernah kerja di Cirebon, tetapi karena aku wong Jawa tidak bisa bahasa Cirebon, sulit kalo jadi kenek disana, trus aku balik lagi ke Jakarta, disini lebih nyaman!". Rupanya dia bangga menjadi seorang Jawa, saya tersenyum dikedalaman dan entah mengapa sampai saat ini bayangan anak tersebut masih jelas dalam benak saya.
Memang sangat mengenaskan nasib sebagian besar anak-anak di kota ini. Jika kita lihat dibanyak perempatan lampu merah dengan pemandangan anak-anak balita dalam gendongan seorang wanita (entah ibunya atau bukan) yang sedang meminta-minta sudah merupakan hal yang biasa. Bahkan terkadang anak-anak itu sendiri yang turun kejalan dan memasuki bis-bis atau mengetok kaca mobil tuk meminta-minta. Belum lagi anak-anak yang tertidur (atau ditidurkan) pada banyak jembatan penyebrangan hingga larut malam. Jangankan mengenal buku dan pensil, atap rumah saja tidak mereka kenal kecuali setiap hari berada dibawah langit kelam kota ini. Akan tetapi walau mereka belum mampu mengecap 'keindahan' dari negeri ini, mereka tidak meragukan kewarganegaraan mereka di negeri ini. Mereka akan menjawab dengan bangga, lantang dan pasti jika ditanyakan asal mereka dan negeri mereka. Tidak ada keraguan sedikitpun.
Perjumpaan-perjumpaan dengan mereka ini sering menggelitik hati saya "apa yang dapat saya lakukan" untuk perbaikan. Bagaimana nasib bangsa ini jika mereka anak-anak itu akan menjadi generasi penerus bangsa ini pada saatnya nanti?? Kemana mata para penguasa selama ini ? Apakah mereka tidak pernah menyaksikan pemandangan diperempatan lampu merah dan jembatan-jembatan penyeberangan itu ? Apakah hal ini belum menjadi suatu issue karena prosentasenya yang dianggap masih kecil ?
Memang ada kalangan tertentu di negeri ini yang mampu menikmati sekolah mewah yang prestisius. Sekolah yang hanya dapt dimasuki oleh mereka yang memiliki orang tua dengan income tertentu. Mereka mendapatkan segala yang baik dinegeri ini. Akan tetapi saat mereka tidak bisa secara lancar berbahasa Indonesia, bahasa negara dimana mereka hidup dan berkembang, saya menjadi bertanya-tanya "siapa mereka ini sebenarnya ??"
Banyak orang-orang yang berusaha mengambil aneka keuntungan dari keberadaan mereka di negeri ini. Mereka bekerja, beranak cucu, membesarkan anak-anak mereka, menikmati fasilitas yang ada dan memiliki kekayaan karena keberadaan mereka di negeri ini, akan tetapi selalu menghujat dan membenci negeri ini bukan karena ingin mengkritisi untuk membangun tetapi karena mereka memang opportunis!
Betapa geram rasanya, saat menedengar seorang teman berkata"jika ada negara yang akan menyerang negeri ini, maka aku akan mendukung negara tersebut". Rasanya ingin marah!! Memang harus mengakui bahwa dalam perjalanannya (akibat penguasa yang kurang bijaksana) ada masa kelabu yang harus dialami oleh golongan tertentu dinegeri ini. Tetapi bukan berarti kita terus membawa luka itu sepanjang hidup dan menularkannya kepada generasi selanjutnya. Jika terus begitu, maka rantai kepahitan itu tidak akan pernah selesai!!
Jika kita tidak mampu memberi sesuatu bagi negeri ini, maka janganlah kita membenci, menghujat atau memperburuk keadaan. Sebab negeri ini telah memberi banyak hal berharga bagi kita! Janganlah kita mengaburkan impian indah para pendiri negeri ini pada mulanya !
Wherever you are, be there!
A delightful story is told about a young man who applied for a job as a telegraph operator. He answered an ad in the newspaper and went to the telegraph office to await an interview. Though he knew Morse Code and was qualified in every other way, seven other applicants were also waiting in the large, noisy office.
He saw customers coming and going and heard a telegraph clacking away in the background. He also noticed a sign on the receptionist's counter instructing applicants to fill out a form and wait to be summoned to an inner office for an interview. He filled out the form and sat down to wait.
After a few minutes, the young man stood up, crossed the room to the door of the inner office, and walked right in. Naturally the other applicants perked up, wondering why he had been so bold. They talked among themselves and finally determined that, since nobody had been summoned to interview yet, the man would likely be reprimanded for not following instructions and possibly disqualified for the job.
Within a few minutes, however, the young man emerged from the inner office escorted by the interviewer, who announced to the other applicants, 'Thank you all very much for coming, but the job has just been filled.'
They were all confused and one man spoke up: 'Wait a minute - I don't understand. We've been waiting longer than he and we never even got a chance to be interviewed.'
The employer responded, 'All the time you've been sitting here, the telegraph has been ticking out the following message: If you understand this, then come right in. The job is yours.'
This man knew a valuable life-lesson that most people miss: Wherever You Are, Be There. If you're there physically, also be there emotionally. Be there mentally. Be there attentively. Be there as fully as you can.
It's about being present and fully alive in the moment. Wherever you are, be there. Give your full attention to others (is there really a better gift?). Give yourself fully to the task at hand or to the present moment. When you're completely present, you'll make the most of every minute. And minutes lived fully add up to a life lived magnificently.
By Steve Goodier
Subscribe to:
Posts (Atom)