My Fav Quote

Thursday, November 20, 2008

Langkah Kaki kecil ini...


Disaat SMA muncul keyakinan bhw daku akan menjelajahi Indonesia dr Sabang s/d Merauke. Keyakinan tsb smakin menebal kala ku menyadari tahi lalat di kakiku. Spt mama yg jg memiliki hal yg sama dan lihatlah dirinya yg tak hentinya berkeliling dr suatu tempat ke tempat lain. Mengenang impian masa lalu tsb tlh mbuat airmata menetes kala menulis dlm blog ini. Tlah jauh DIA menuntunku b'jln sambil memenuhi hasrat petualang ku. Bhkan IA mbawaku ke t4 yg hy scara spontan bkelebat dlm benakku. Mmg daku tak menuangkn bbrp pglmn trakhir dlm blog ini. Ini sengaja kubuat, krn ku tak ingin pd pglmn br, menulis mjd suatu rutinitas, hy mjd sbuah alat prekam tuk mbangkitkn ingatn tanpa sempat mberi ruang bg pglmn tsb tuk sungguh2 meresapi diri n tak mberi diri wkt tuk menggumuli pglmn yg br datang dg aneka makna, pesan, keindahn n tanda2 yg menyertainya. Kmrn kucoba mempatri pglmn dlm diri tanpa tulisn. Pengalaman stlh melangkah keluar dr ASEC, ke Sumba Timur, memiliki sahabat2 br, jatuh cinta, bgulat dg aneka kejutan hingga daku sampai dititik ini dmana saat kaki akhirnya menjejak di tanah Papua ini! Merauke!


Wahai Pemilik Jiwa, tahukah Engkau bgm rasanya sang jiwa ini tharu?! Bgm daku smakin menggigil krn cintaMu terasa berusaha begt erat mendekapku...serasa tak mberi kesemptn tuk meragu...kecuali smakin yakin...n yakin bhw Engkau sungguh2 mencintaiku...mengusahakn kebahagianku n slalu myertaiku. Smoga keberadaanku ini, mampu membuat Engkau tsenyum. Sebuah senyuman besar yg mengundangku smakin berlari menuju pelukanMu...tuk smakin pasrah dlm kehangatn kasihMu. Trimakasih Sang Kekasih Jiwa...:-)

Dari kekasih kecilMu, yg sdg tharu dlm keheningn mlm ke-2nya yg hujan di Merauke. (21 Nov '08, 00.00 WIT)

Thursday, July 31, 2008

Di Penghujung

Ada aneka macam impian, keinginan, cita-cita yang selalu berterbangan dalam benak dan kepala ini. Kadang-kadang keinginan itu begitu kuat dan menggoda, begitu indah dan menantang, begitu indah dan merindukan tuk segera diwujudkan. Kapankan waktu itu tiba...begitulah terkadang jeritan jiwa yang mendamba dan merindu detik-detik terwujudnya sebuah impian dan cita-cita menjadi realita.

Bila waktu itu tiba, pastilah jiwa bersorak gembira, bersenandung riang dan bersyukur tak henti saat menyadari bahwa ia telah memenangkan garis finish yang seolah-olah berada diujung yang tak kunjung tergapai.

Penantianku pun seperti itu...
Aneka pergulatan, kerja keras, semangat, suka cita, sakit hati dan keperihan yang mengiringi terbangunnya sebuah impian lama. Tidak mudah, sungguh sangat tidak mudah.
Saat kelelahan mendera, ingin ku mundur dan berganti dengan keingin-keinginan lainnya. Tetapi tanpa terduga datang ajakan dari teman-teman..."Ayo, bersemangat, engkau hanya butuh istirahat sesaat, bukan pergi dan meninggalkan impianmu"

Begitulah siklusnya...

Besok akan menjadi penghujung perjalananku di tempat ini...
Sebuah tempat yang sangat banyak membagikan kekayaan dan pengalaman...
Sebuah tempat yang sungguh ku syukuri pernah menjadi bagian dari sejarahku...
Sebuah tempat yang memberi keindahan dikala kegersangan panas gurun terasa menyiksa...

Tak lama perjalan ditempat ini..tetapi ia telah menancap cukup dalam.
Dan ku yakin segala sesuatu memang harus terjadi pada waktunya.

Mungkin esok memang waktu yang DIA inginkan tuk menjadi penghujung.
Mungkin lusa, DIA telah mempersiapkan arena baru yang lebih indah bagi sang jiwa.
Mungkin aneka keindahan telah DIA persiapankan didepan sana & menunggu tuk dijelajahi.

Semoga pertualangan berikutnya akan semakin sesuai dengan impianMU...
Semoga perjalanan selanjutnya semakin membentuk diriku serupa dengan citraMU...
Semoga karyaku nanti semakin berkenan dihadapanMU...
Semoga makna hidupku semakin berkenan bagiMU.

Itulah keinginan dan kerinduan terdalam jiwaku, wahai Kekasih Jiwaku.


Akhir July 2008
Sebelum meninggalkan ASEAN Secretariat

Tuesday, July 15, 2008

Apakah engkau tahu, apa yang DIA inginkan daripadamu, Jun ?

Kita telah mengenal dan percaya akan cinta Allah terhadap kita," kata seorang teman.
"Tentu saja!".
"Bagaimana kita tak dapat percaya akan cinta setelah mengenalnya ?"
"Bagaimana kita tak dapat mengenalnya setelah cinta itu dinyatakan kepada kita ?"

"Apakah engkau benar-benar yakin akan hal itu ?" ia bertanya

Kuakui dan kurasakan...

Betapa baiknya DIA mengetahui
tanda-tanda cuaca di langit,
pikiran-pikiran manusia di bumi ini,
keindahan kuntum-kuntum bunga di padang
serta perangai burung-burung di udara !

Terkadang daku membayangkan...

Bagaimana manusia yang selalu menyibukkanNya,
dengan pertengkaran-pertengkaran yang tolol,
dengan keluhan-keluhan mereka
serta permintaan-permintaannya
yang sangat ingat diri,
dengan kepala batunya serta hatinya yang bandel,
Jika IA telah puas dengan manusia,
pastilah DIA akan pergi dengan sebuah perahu
bersama kelompok kecil
sahabat-sahabatNya yang setia
dan menarik nafas di laut yang mercak-mercik.

Daku juga membayangkan...

Sama seperti daku mencari sekedar kesunyian
atau suatu hembusan angin yang segar
sebelum memulai hari baru,
IApun pernah melakukan hal yang sama,
bahwa Ia pun mengalami kebutuhan yang sama
dan merasakan kenikmatan-kenikmatan sederhana itu?

Lalu muncul keinginan...

memiliki sikapNya terhadap 'orang' yang paling tak dihargai,
Ia menunjukkan cinta sedemikian rupa,
Ia menunjukkan kepercayaan,
yang begitu mendesak dan tak terduga,
sehingga menjadi sumber kemurahan hati serta iman yang mengagumkan.
Sehingga perasaan-perasaan yang seolah
telah kering selama-lamanya
mulai mencair kembali dan mengaliri diri 'orang',
membuat 'orang' terapung-apung,
menghayutkan dan membuat 'orang' bertobat.

Kemudian...

TeladanNya terhadap orang-orang yang "dibuang",
Ia memilih tuk berhenti dihadapan mereka,
menatap mereka dengan kepercayaan
yang begitu besar,
dan mencintai mereka
dengan kesederhanaan yang begitu lugu,
dengan kelembutan yang begitu tidak-biasa,
dan kegembiraan yang membara-bara,
sehingga pastilah Ia menarik ke luar
dari hati mereka yang keras
dan tidak tahu belas kasihan,
suatu ledakan terima kasih, kagum dan terpikat.

Dari setiap orang
Tuhan menantikan sesuatu yang paling hebat.

"Apakah engkau tahu, apa yang DIA inginkan daripadamu, Jun ?" kembali ia bertanya.

Dan ku jawab dalam bisu
dengan kembali merenung...
dan mencari...

Sumber inspirasi : "Kaulah Orangnya by Louis Evely"

Friday, July 04, 2008

Salam

Malam menghadirkan bulan
Sang Bulan membangkitkan kenangan
Akan seseorang entah telah terbang kemana

3 malam dalam perjalanan pulang
Mata memandang bulan
Teringat akan seseorang yang terpana pada purnama

Sambil memandang bulan
Dikekelaman malam
Ku sampaikan salam
Salam selamat malam...!

Thursday, June 12, 2008

Sssttttt...!

Mari ... hening sejenak
Menyendiri dengan kesendirian
Menemukan kembali sesuatu nan memudar dan hampir hilang

Mari ... membuat jiwa kembali bertemu maknanya
Membuat sukma pada hakekat bebasnya
Menuai keindahan tanpa keterikatan

Mampukah dikau menemukan keindahan ?

Sssttttt...!
Diam & heninglah !
Seluruh pencarian ada didalamnya !

Diriku dalam rindu akan keheningan

Bambu

Keseluruhanmu berguna!
Ketinggian nan bertambah, membuatmu semakin merunduk.
Bahkan saat angin datang menerpa,
engkau justru menghasilkan bunyi nan indah,
melalui gesekan dedaunanmu.

Bambu...
engkau pernah hadir memberi makna itu dalam doa heningku.
Memory in Ruteng, Manggarai in 2005

Thursday, June 05, 2008

Anak kecil Vs Opportunis

Secara tidak sengaja di dalam bis pada suatu malam dua bulan yang lalu, saya bertemu dengan seorang anak lelaki yang sangat menarik. Dia sangat ramah dan ceria, kemudian tanpa ragu memulai perbincangan. Dengan sedikit iseng saya bertanya, "Kamu masih sekolah?"
Dengan senyuman lepas dia berkata "Jika aku masih sekolah, aku sudah kelas 1 SMP, Mbak, tapi aku sudah berhenti sekolah sejak kelas 5 SD"
Hati saya sangat terenyuh saat mendengar hal itu yang dilanjutkannya dengan berkata" aku sudah pernah kerja di Cirebon, tetapi karena aku wong Jawa tidak bisa bahasa Cirebon, sulit kalo jadi kenek disana, trus aku balik lagi ke Jakarta, disini lebih nyaman!". Rupanya dia bangga menjadi seorang Jawa, saya tersenyum dikedalaman dan entah mengapa sampai saat ini bayangan anak tersebut masih jelas dalam benak saya.

Memang sangat mengenaskan nasib sebagian besar anak-anak di kota ini. Jika kita lihat dibanyak perempatan lampu merah dengan pemandangan anak-anak balita dalam gendongan seorang wanita (entah ibunya atau bukan) yang sedang meminta-minta sudah merupakan hal yang biasa. Bahkan terkadang anak-anak itu sendiri yang turun kejalan dan memasuki bis-bis atau mengetok kaca mobil tuk meminta-minta. Belum lagi anak-anak yang tertidur (atau ditidurkan) pada banyak jembatan penyebrangan hingga larut malam. Jangankan mengenal buku dan pensil, atap rumah saja tidak mereka kenal kecuali setiap hari berada dibawah langit kelam kota ini. Akan tetapi walau mereka belum mampu mengecap 'keindahan' dari negeri ini, mereka tidak meragukan kewarganegaraan mereka di negeri ini. Mereka akan menjawab dengan bangga, lantang dan pasti jika ditanyakan asal mereka dan negeri mereka. Tidak ada keraguan sedikitpun.

Perjumpaan-perjumpaan dengan mereka ini sering menggelitik hati saya "apa yang dapat saya lakukan" untuk perbaikan. Bagaimana nasib bangsa ini jika mereka anak-anak itu akan menjadi generasi penerus bangsa ini pada saatnya nanti?? Kemana mata para penguasa selama ini ? Apakah mereka tidak pernah menyaksikan pemandangan diperempatan lampu merah dan jembatan-jembatan penyeberangan itu ? Apakah hal ini belum menjadi suatu issue karena prosentasenya yang dianggap masih kecil ?

Memang ada kalangan tertentu di negeri ini yang mampu menikmati sekolah mewah yang prestisius. Sekolah yang hanya dapt dimasuki oleh mereka yang memiliki orang tua dengan income tertentu. Mereka mendapatkan segala yang baik dinegeri ini. Akan tetapi saat mereka tidak bisa secara lancar berbahasa Indonesia, bahasa negara dimana mereka hidup dan berkembang, saya menjadi bertanya-tanya "siapa mereka ini sebenarnya ??"

Banyak orang-orang yang berusaha mengambil aneka keuntungan dari keberadaan mereka di negeri ini. Mereka bekerja, beranak cucu, membesarkan anak-anak mereka, menikmati fasilitas yang ada dan memiliki kekayaan karena keberadaan mereka di negeri ini, akan tetapi selalu menghujat dan membenci negeri ini bukan karena ingin mengkritisi untuk membangun tetapi karena mereka memang opportunis!

Betapa geram rasanya, saat menedengar seorang teman berkata"jika ada negara yang akan menyerang negeri ini, maka aku akan mendukung negara tersebut". Rasanya ingin marah!! Memang harus mengakui bahwa dalam perjalanannya (akibat penguasa yang kurang bijaksana) ada masa kelabu yang harus dialami oleh golongan tertentu dinegeri ini. Tetapi bukan berarti kita terus membawa luka itu sepanjang hidup dan menularkannya kepada generasi selanjutnya. Jika terus begitu, maka rantai kepahitan itu tidak akan pernah selesai!!

Jika kita tidak mampu memberi sesuatu bagi negeri ini, maka janganlah kita membenci, menghujat atau memperburuk keadaan. Sebab negeri ini telah memberi banyak hal berharga bagi kita! Janganlah kita mengaburkan impian indah para pendiri negeri ini pada mulanya !

Search This Blog